BMKG: Hujan Masih Berpotensi di Cilacap Hingga Akhir Agustus

Sabtu, 30 Agustus 2025 | 09:41:10 WIB
BMKG: Hujan Masih Berpotensi di Cilacap Hingga Akhir Agustus

JAKARTA - Memasuki akhir Agustus 2025, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Cilacap dan sekitarnya untuk tetap waspada terhadap hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang diperkirakan masih akan berlangsung beberapa hari ke depan. Hujan ringan hingga sedang bahkan tercatat terjadi pada Kamis, 28 Agustus 2025 hingga Jumat, 29 Agustus 2025 dan diperkirakan berlanjut hingga malam hari, sehingga berpotensi menimbulkan dampak bagi aktivitas masyarakat.

Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu ini dipengaruhi oleh beberapa fenomena atmosfer dan lautan. Salah satunya adalah Dipole Mode Indeks (DMI) yang tercatat negatif hingga -1,2. Fenomena ini berdampak pada meningkatnya curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat, termasuk Jawa.

“Dipole Mode Indeks merupakan fenomena interaksi laut – atmosfer di Samudera Hindia yang dihitung berdasarkan perbedaan nilai suhu permukaan laut antara pantai timur Afrika dengan pantai barat Sumatera. Perbedaan nilai anomali suhu permukaan laut tersebut disebut sebagai Dipole Mode Indeks (DMI). Jika DMI positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia bagian barat, sedangkan DMI negatif berdampak pada meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat. DMI dianggap normal ketika nilainya +0,4,” jelas Teguh.

Selain DMI, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) fase 4 di Samudra Hindia juga ikut berkontribusi terhadap terbentuknya awan hujan. MJO adalah fenomena atmosfer berupa pergerakan gugusan awan dan aktivitas konveksi di wilayah tropis dari Samudra Hindia menuju Samudra Pasifik dengan siklus 30–60 hari. Saat berada pada fase basah, seperti saat ini, MJO meningkatkan curah hujan di Indonesia.

“Fenomena MJO saat ini berada di fase 4, sehingga meningkatkan potensi curah hujan di wilayah Indonesia, termasuk Cilacap,” imbuh Teguh.

Tidak hanya itu, Gelombang Rossby Ekuatorial yang melewati Pulau Jawa turut meningkatkan peluang terjadinya hujan. Gelombang atmosfer yang bergerak ke barat di sekitar ekuator ini dikenal sebagai gelombang planet yang mampu memicu pembentukan awan hujan. “Gelombang ini penting karena dapat meningkatkan potensi pembentukan awan hujan dan menyebabkan peningkatan curah hujan di Indonesia, terutama ketika aktif bersama fenomena lain seperti MJO,” ujar Teguh.

Dengan sejumlah faktor tersebut, BMKG menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Banjir, tanah longsor, hingga banjir bandang bisa terjadi bila hujan lebat berlanjut tanpa antisipasi. Pihak BMKG juga menyarankan agar warga selalu memantau prakiraan cuaca melalui kanal resmi, sehingga bisa mengambil langkah pencegahan lebih dini.

Meski curah hujan meningkat hingga akhir Agustus, BMKG memprakirakan musim hujan secara resmi baru akan mulai masuk di pertengahan hingga akhir September 2025. Peralihan dari musim kemarau ke musim hujan ini diharapkan membawa kestabilan cuaca lebih baik, tetapi masyarakat tetap perlu waspada terhadap fenomena ekstrem selama masa transisi.

BMKG juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan lokal. "Masyarakat diharapkan tetap waspada, terutama yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor. Persiapkan langkah mitigasi sederhana seperti membersihkan saluran air dan memantau kondisi tanah di sekitar rumah," pesan Teguh.

Selain itu, pihak BMKG menekankan bahwa kombinasi DMI negatif, MJO fase basah, dan Gelombang Rossby Ekuatorial membuat curah hujan akhir Agustus lebih tinggi dibanding biasanya. Hal ini menjadi sinyal bagi pemerintah daerah dan masyarakat agar menyiapkan antisipasi, terutama di wilayah yang sebelumnya rawan terdampak bencana hidrometeorologi.

Di tengah kondisi cuaca yang masih tidak stabil ini, BMKG menegaskan pentingnya edukasi masyarakat agar lebih paham fenomena alam yang memengaruhi curah hujan. Teguh menambahkan, pemahaman terhadap fenomena atmosfer dan laut, seperti DMI dan MJO, membantu masyarakat memahami alasan meningkatnya potensi hujan dan mempersiapkan diri dengan tepat.

Kesimpulannya, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di Cilacap dan sekitarnya hingga akhir Agustus 2025. Faktor-faktor seperti DMI negatif, MJO fase 4, dan Gelombang Rossby Ekuatorial menjadi pemicu utama. BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, meski musim hujan diperkirakan baru masuk pertengahan hingga akhir September. Peningkatan kewaspadaan dan langkah mitigasi sederhana diharapkan dapat mengurangi dampak hujan lebat bagi kehidupan sehari-hari.

Terkini

Rekrutmen KAI 2025: Lowongan untuk Lulusan SLTA hingga S1

Sabtu, 30 Agustus 2025 | 09:45:02 WIB

Panduan Tiket dan Jadwal Pelni KM Tatamailau

Sabtu, 30 Agustus 2025 | 09:53:22 WIB